Melatih Kedewasaan Anak dalam Menghadapi Teknologi
Melatih Kedewasaan Anak dalam Menghadapi Teknologi merupakan kajian Islam ilmiah yang disampaikan oleh Ustadz Abu Ihsan Al-Atsaary dalam pembahasan Tarbiyah Jinsiyyah (Pendidikan Seksual Untuk Anak Dan Remaja Dalam Islam). Kajian ini disampaikan pada Selasa, 8 Muharram 1448 H / 23 Juni 2026 M.
Kajian Tentang Melatih Kedewasaan Anak dalam Menghadapi Teknologi
Gawai merupakan alat elektronik yang sangat pokok, terutama untuk sarana komunikasi dan bertukar informasi. Seiring berjalannya waktu, variasi gadget berkembang pesat dan semakin beragam. Saat ini hampir semua orang akrab dengan media sosial yang menawarkan banyak pilihan, mulai dari WhatsApp, Instagram, Facebook, Twitter, YouTube, hingga TikTok. Keberadaan media sosial tersebut mampu membawa banyak perubahan pada diri seseorang, baik dari segi kepribadian, tingkat kepercayaan diri, kecerdasan, maupun perilaku sosial.
Di satu sisi, media sosial memberikan banyak manfaat sebagai alat komunikasi antar lintas jarak, media bisnis, serta sarana belajar. Namun di sisi lain, media sosial juga membawa dampak negatif yang signifikan dalam kehidupan manusia.
Pada sebagian kasus, para orang tua memberikan keleluasaan serta kebebasan kepada anak-anak untuk bermain gadget atau bermedia sosial. Bahkan ada orang tua yang sengaja menyajikan berbagai macam tayangan video untuk menarik perhatian anak agar tidak mempersulit atau mengganggu pekerjaan orang tua. Ketika anak rewel, solusi yang kerap diambil secara mudah adalah dengan memberikan gadget agar anak menjadi tenang melalui tontonan atau permainan gim. Para orang tua beranggapan tindakan tersebut dapat mengontrol anak agar tidak bermain jauh dari rumah.
Kondisi hari ini menghadapkan orang tua pada dua pilihan yang sulit bagai makan buah simalakama. Jika anak ditahan di rumah dengan diberikan gawai, anak akan larut dan hanyut di dalamnya. Sebaliknya, jika anak dilepas ke luar rumah, lingkungan pergaulan di luar sana juga tidak kalah buas dan tidak sepenuhnya aman.
Demi menenangkan anak di dalam rumah, gawai sering kali dijadikan pilihan. Padahal gawai tidak sepenuhnya aman. Ketika benda tersebut berada di tangan anak, mereka justru menjadi lebih leluasa untuk berselancar di dunia maya yang tanpa batas. Anak dapat mengakses apa saja dan melihat konten apa saja. Jika anak dilepas di luar rumah, pergerakannya mungkin tidak seliar ketika bermain gawai atau media sosial. Kedua pilihan tersebut sama-sama membawa ancaman bagi anak.
Dampak Negatif Gawai pada Tumbuh Kembang Anak
Sebagian orang tua menganggap pemberian gawai efektif untuk mengendalikan anak agar tidak bermain jauh, tidak membuat rumah berantakan, tidak berbuat ulah, serta tidak berkeliaran di luar rumah yang berpotensi menimbulkan masalah. Namun akibat dari pola tersebut, anak menjadi kurang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Anak cenderung berubah menjadi pribadi yang introvert, lebih sering bermalas-malasan di rumah, serta kurang memiliki kemampuan untuk bergaul dengan lingkungan sekitarnya.
Jika anak sejak usia dini sudah diberikan stimulasi melalui media layar siber secara berlebihan, hal tersebut akan memberikan pengaruh buruk pada perkembangan otaknya. Dampak klinisnya, perkembangan otak anak dapat mengecil, terkungkung, serta mematikan daya kreasi. Anak menjadi tidak mampu menalar lebih jauh karena terus-menerus berhadapan dengan layar gawainya.
Stimulasi melalui layar siber atau media memberikan pengaruh buruk pada perkembangan otak anak. Sebaliknya, penelitian membuktikan bahwa bayi yang diberi gizi dengan baik serta dibiarkan bermain menggunakan permainan yang sifatnya fiskal dan bergerak bersama teman sebaya, akan mendapatkan pengaruh yang sangat baik pada otak. Kecerdasan dan ketangkasan anak tersebut akan meningkat.
Adapun anak yang dikurung di rumah dengan diberikan gawai cenderung tidak memiliki kreativitas, malas, serta tidak mempunyai kecerdasan sosial. Mereka juga cenderung menjadi pribadi yang tidak sabar dan tidak bisa berinteraksi dengan orang lain.
Sebagian pakar pendidikan menjelaskan bahwa pemberian stimulus berupa tayangan video pada anak usia dini memberikan banyak dampak negatif di kemudian hari, terutama pada perkembangan komunikasi interpersonal anak. Kondisi normal bagi anak usia dini adalah asyik bermain dengan teman sebaya. Namun, keberadaan gawai dapat membuat anak menjadi malas bergerak untuk beraktivitas di luar rumah atau memilih bermain bersama teman-temannya. Anak cenderung lebih memilih untuk menonton tayangan di dalam rumah.
Transformasi Media dan Kendali di Tangan Anak
Dahulu ancaman utama bagi perkembangan anak adalah televisi, di mana anak bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depannya. Saat ini televisi konvensional bukan lagi menjadi ancaman utama karena anak-anak sudah tidak tertarik menontonnya. Anak-anak lebih senang mengakses gawai, seperti menonton YouTube dan sejenisnya. Media tersebut dirasa lebih bebas karena tidak dibatasi.
Televisi konvensional merupakan media satu arah yang hanya mencekoki penonton dengan apa yang ditayangkan, dan hal itu saja sudah memberikan pengaruh buruk pada otak anak. Kondisi tersebut jauh berbeda dengan media dua arah yang memungkinkan anak untuk berinteraksi, seperti dunia maya melalui media sosial, game, dan tayangan internet. Pada media dua arah ini, anak dapat memilih konten kapan saja, memberhentikan, mempercepat, memperlambat, memajukan, serta memundurkan tayangan. Kendali sepenuhnya berada di tangan anak, sehingga media ini menjadi sangat menarik bagi mereka.
Bahkan saat ini televisi telah bertransformasi menjadi smart TV yang fungsinya hampir menyerupai telepon genggam sebagai alat hiburan. Penonton memiliki kendali penuh untuk memilih tayangan, sehingga membuat mereka semakin malas bergerak dan betah bertahan selama berjam-jam di depan layar.
Anak-anak generasi sekarang banyak yang terjaga hingga larut malam bukan untuk menonton televisi, melainkan untuk bermain media sosial bahkan hingga menjelang pagi tanpa terasa. Banyak orang tua mengeluhkan anak-anak mereka yang susah dibangunkan untuk menunaikan shalat subuh. Fenomena tersebut terjadi bukan karena anak gemar tidur atau kelebihan tidur, melainkan karena anak justru kekurangan tidur akibat bermain gawai semalaman tanpa kontrol dari orang tua. Anak-anak baru tidur pada pukul 03.00 atau 04.00 dini hari ketika baterai gawai sudah habis atau saat mereka sudah tidak kuasa lagi menahan kantuk. Kondisi tersebut membuat anak sangat sulit dibangunkan untuk shalat subuh karena jarak waktu tidur dengan waktu subuh tidak sampai dua jam.
Kondisi ini sering kali berbeda ketika anak berada di pondok pesantren karena mereka terikat oleh aturan, memiliki jam tidur yang terjadwal, serta tidak bebas bermain gawai. Banyak orang tua melaporkan bahwa saat di pondok, anak-anak mereka selalu shalat subuh tepat waktu. Namun, ketika anak pulang ke rumah untuk liburan, seluruh keteraturan tersebut menjadi berantakan.
Masalah utama dari fenomena ini adalah lemahnya pendidikan di dalam rumah. Aturan di sekolah atau pondok membuat anak tampak tertib, namun karakter asli anak tercermin dari perilakunya saat berada di rumah. Disiplin yang ditunjukkan anak saat berada di pondok pesantren sering kali terjadi karena keterikatan aturan dan adanya sanksi. Karakter asli anak baru akan terlihat ketika mereka kembali ke rumah. Perilaku di rumah inilah yang akan menjadi gambaran nyata masa depan mereka setelah lulus, karena seorang anak tidak mungkin selamanya tinggal di pondok pesantren dan pasti akan lepas dari ikatan peraturan tersebut. Ketika terbebas dari aturan formal sekolah, di situlah kepribadian asli mereka diuji. Fenomena anak lulusan pondok pesantren yang tidak menunjukkan hasil apa-apa setelah keluar terjadi karena kehidupan di lembaga tersebut belum sepenuhnya mencerminkan jati diri mereka yang sebenarnya.
Kondisi ini harus menjadi perhatian besar bagi para orang tua. Pendidikan di rumah merupakan tulang punggung dan gambaran nyata dari kepribadian anak. Orang tua tidak perlu mengeluh ketika mendapati laporan perkembangan anak yang sangat baik di pondok, namun perilakunya justru berantakan saat pulang ke rumah.
Kesalahan yang sering terjadi adalah orang tua justru menyalahkan pihak pondok atau sekolah, padahal akar masalahnya terletak pada pendidikan di dalam rumah yang tidak berjalan. Hal ini diperparah oleh ketiadaan koordinasi antara pendidikan di rumah dengan di sekolah. Pola pikir orang tua yang sekadar menitipkan anak ke sekolah tanpa memberikan fondasi pendidikan dari rumah tidak akan pernah berhasil membentuk karakter anak secara optimal.
Memaksimalkan Masa Keemasan (The Golden Age)
Anak usia dini memiliki berbagai potensi genetik yang siap ditumbuhkembangkan melalui pemberian rangsangan. Masa ini merupakan masa keemasan (the golden age), yaitu suatu fase ketika anak mulai peka dan sensitif untuk menerima berbagai stimulan. Usia emas ini ditandai dengan berkembangnya jumlah serta fungsi sel-sel saraf otak secara optimal. Aspek ini mengalami perkembangan yang luar biasa dan akan menentukan masa depan anak sampai dewasa, meliputi kecerdasan intelektual, spiritual, emosional, hingga sosial.
Pada masa keemasan ini, anak akan menjadi peniru yang ulung. Mereka sangat cerdas dan tanggap terhadap apa yang dilakukan serta diucapkan oleh orang-orang di sekitarnya. Semua informasi yang diserap oleh anak dengan cepat akan menjadi dasar terbentuknya karakter, kepribadian, dan kemampuan kognitif.
Pada aspek kecerdasan, anak usia dini harus diberikan stimulus berupa alat dan media bermain yang tepat agar perkembangan mereka mengarah pada hal positif. Stimulus yang tepat mampu membantu anak dalam mengoptimalkan fungsi berpikir dan kecerdasan otaknya. Hal ini merupakan tugas utama dari pendidik, terutama orang tua di rumah serta guru di sekolah.
Masyarakat harus memaklumi keterbatasan kondisi di sekolah. Guru di sekolah harus menangani banyak murid, terutama pada lembaga yang memiliki jumlah siswa hingga ribuan, sehingga perhatian kepada tiap anak tidak dapat tercurah sepenuhnya. Sekolah dengan jumlah murid sedikit yang menawarkan perhatian lebih intensif biasanya membutuhkan biaya yang sangat mahal. Oleh karena itu, pihak yang paling bisa diandalkan untuk mendidik anak adalah guru utama di rumah, yaitu orang tua.
Orang tua wajib mengendalikan dan mengawasi apa yang disaksikan, ditonton, serta media yang mendasari interaksi anak. Pengawasan yang ketat membuat tumbuh kembang anak tertuntun dengan baik, sehingga membentuk konstruksi bangunan kepribadian yang positif, baik dari sisi duniawi maupun agama. Pengawasan dan stimulasi yang tepat akan membedakan kualitas kecerdasan spiritual anak. Anak yang benar-benar terdidik shalatnya akan berbeda dengan anak yang sekadar mendirikan shalat tanpa pemahaman. Demikian pula dalam interaksi mereka dengan Al-Qur’an.
Ada anak yang membaca Al-Qur’an hanya sekadar untuk kesenangan, hiburan, atau melantunkan bacaannya dengan indah saja. Sementara itu, anak yang mendapatkan pengarahan dengan baik akan menunjukkan interaksi yang berbeda. Mereka memiliki ketertarikan untuk mendalami dan mentadaburi maknanya, bukan lagi sekadar menikmati seni bacaannya. Tadabbur merupakan inti dari interaksi seorang hamba dengan Al-Qur’an, baik dalam membaca Al-Qur’an maupun dalam menjalankan ibadah-ibadah yang lain. Hal inilah yang dinamakan sebagai kecerdasan spiritual. Tingkat kecerdasan spiritual ini akan berbeda-beda antara satu anak dengan anak yang lain. Perbedaan yang mencolok akan terlihat antara anak yang diarahkan, diasah, diasuh, dan diasih oleh orang tuanya, dengan anak yang dibiarkan begitu saja tanpa bimbingan.
Meskipun sama-sama mendirikan shalat, membaca Al-Qur’an, atau menuntut ilmu, tingkat kesadaran mereka dalam menjalankannya tidak akan sama. Ada anak yang menuntut ilmu sekedar untuk melaksanakan perintah orang tua agar tidak dimarahi, atau sekadar agar mendapatkan pujian dari kedua orang tuanya. Sebaliknya, ada anak yang belajar karena memang memiliki tujuan yang jelas. Perkembangan, arah, jalan, serta alur anak yang memiliki kesadaran tersebut dalam menuntut ilmu sudah tampak terlihat sejak mereka masih kecil.
Sifat Netral Bakat dan Pentingnya Pengarahan
Kualitas perkembangan anak sangat bergantung kepada pendidiknya dalam mengawal proses pendidikan tersebut. Perihal bakat anak, orang tua harus mampu mengasah, mengarahkan, dan mengembangkannya agar tidak tersia-siakan. Bakat yang perlu diarahkan adalah bakat yang membawa dampak positif, karena pada dasarnya bakat itu bersifat netral.
Sama halnya dengan teknologi, bakat bersifat netral dan arahnya bergantung kepada pendidik yang memegang kendali. Bakat yang pada dasarnya baik dapat berubah menjadi negatif apabila diarahkan kepada hal-hal yang negatif. Sebaliknya, bakat yang berpotensi negatif pun dapat diarahkan menjadi sesuatu yang positif. Anak yang mendapatkan pengawalan pendidikan yang baik akan terbimbing ke arah yang benar. Jika tidak mendapatkan pengawalan, anak akan tumbuh seperti tanaman liar; mereka tetap tumbuh besar, namun tumbuh secara liar dan tidak dapat dikendalikan.
Waspada Media: Teknologi Sebagai Pisau Bermata Dua
Sikap waspada terhadap media bukan berarti bersikap anti pada media atau mengharamkan teknologi tersebut. Teknologi bersifat netral dan pemanfaatannya bergantung kepada pengguna. Di beberapa negara, platform seperti TikTok dapat digunakan sebagai media pembelajaran, sarana pendidikan, serta tempat bertukar informasi yang bermanfaat. Namun di tempat lain, platform yang sama justru dijadikan sarana untuk berjoget atau aktivitas lain yang negatif dan tidak bermanfaat. Hal yang sama juga berlaku untuk YouTube, Instagram, dan media sosial lainnya. Media dapat menjadi alat untuk melakukan kejahatan jika diarahkan pada hal negatif, namun tidak dapat dinafikan pula manfaat besarnya di sisi lain.
Manusia tidak dapat menyalahkan perkembangan teknologi, tetapi wajib melatih kewaspadaan dalam menggunakannya. Teknologi bekerja seperti pisau bermata dua di satu sisi dapat digunakan untuk kebaikan dan memberikan banyak sekali manfaat, namun disisi lain terdapat ancaman besar di baliknya yang harus diwaspadai. Kewaspadaan ini menjadi sangat krusial karena gawai telah berada di tangan anak-anak dan tidak dapat dirampas kembali dengan mudah pada masa sekarang. Saat ini semua orang telah mengenal dan memiliki gawai atau smartphone, mulai dari kalangan kaya hingga miskin, tua maupun muda, laki-laki maupun wanita, hingga dewasa maupun anak-anak di seluruh lapisan masyarakat. Oleh karena itu, kontrol dan pengawasan ketat dari orang tua menjadi satu-satunya benteng pertahanan bagi masa depan anak.
Melatih Kedewasaan Anak dalam Menghadapi Teknologi
Keberadaan gawai tidak dapat dienyahkan begitu saja dari kehidupan manusia modern. Walaupun seorang anak diproteksi dari gawai pada masa kecilnya, suatu waktu kelak benda tersebut akan sampai juga ke tangannya. Momentum tersebut dapat terjadi pada jenjang SMP, SMA, atau bahkan saat kuliah. Kenyataan di lapangan menunjukkan variasi yang beragam; ada anak yang baru memegang gawai saat kuliah, saat SMA, saat SMP, bahkan ada yang sudah memegangnya tanpa batasan sejak usia SD dan TK.
Oleh karena itu, poin krusial yang perlu dilatih adalah bagaimana mempersiapkan anak agar dapat bersikap dewasa dan cerdas dalam menggunakan alat tersebut ketika saatnya tiba. Anak harus diarahkan agar memiliki kecerdasan yang melebihi kecerdasan teknologi yang dipegangnya. Orang tua wajib mengawal proses ini sehingga anak memahami dengan benar fungsi fungsional dari alat tersebut. Jika pengawalan ini gagal dilakukan, anak akan tergilas menjadi korban negatif dari kemajuan teknologi.
Keteladanan Orang Tua Sebagai Kunci Utama
Pelajaran utama di dalam bab ini adalah kewajiban kedua orang tua untuk menjadi contoh yang baik bagi anak, yaitu dengan menjadi figur yang bijak dalam menggunakan gawai. Melalui pengamatan sehari-hari, anak harus dapat menarik kesimpulan sederhana bahwa ayah dan ibunya menggunakan gawai hanya untuk urusan yang penting.
Sebaliknya, hambatan besar akan muncul jika anak mendapati orang tuanya menghabiskan hari-hari dengan bermain gawai, baik di dapur, kamar tidur, ruang tamu, hingga di dalam mobil. Dalam kondisi demikian, seorang ibu atau ayah tidak akan memiliki kekuatan argumen untuk menasehati bahwa gawai itu berbahaya. Bagaimanapun orang tua meyakinkan anak mengenai keburukan gawai, anak akan mengalami kebingungan karena melihat kenyataan bahwa orang tuanya sendiri tidak dapat lepas dari benda berbahaya tersebut.
Anak tidak akan mempercayai ucapan orang tua, guru, atau siapa pun jika realitas yang dilihatnya bertolak belakang. Pola komunikasi akan semakin rusak apabila orang tua justru marah dan mengusir anak yang mengajak berinteraksi hanya karena merasa terganggu saat asyik bermain gawai.
Orang tua harus menyadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan berpikir untuk memahami seberapa penting urusan orang tua di dalam gawai tersebut. Meskipun dalam hati orang tua beralasan bahwa penggunaan gawai bertujuan untuk hal penting seperti mencari nafkah, anak tidak melihat esensi tersebut. Hal yang tertangkap oleh penglihatan anak murni sebatas benda itu selalu ada di tangan orang tuanya.
Oleh sebab itu, orang tua harus rela mengorbankan ego, terutama ketika sedang berada di rumah dan berkumpul bersama keluarga. Gawai harus disingkirkan sebisa mungkin demi memberikan waktu yang berkualitas bagi anak. Pengorbanan ini wajib dilakukan, karena jika orang tua gagal memberikan keteladanan nyata, kata-kata nasihat yang diucapkan akan kehilangan kesaktian serta keampuhannya di hadapan anak. Nasihat mengenai bahaya gawai akan berubah laksana radio rusak di telinga anak apabila orang tua tidak memberikan keteladanan yang nyata.
Dampak Buruk Pengenalan Gawai di Usia Dini
Langkah kedua yang harus ditempuh adalah jangan mengenalkan anak dengan gawai pada usia dini, terutama pada usia dua tahun pertama kehidupan balita. Penggunaan gawai sama sekali tidak disarankan atau tidak direkomendasikan bagi anak di bawah usia lima tahun.
Pembatasan ketat ini didasarkan pada fakta bahwa usia balita merupakan masa keemasan (the golden age), di mana seluruh aspek perkembangan anak sedang tumbuh secara simultan. Pada fase ini, kemampuan sensori motorik sedang tumbuh dan kecerdasan emosional sedang terbangun. Carut-marutnya fase perkembangan ini akibat pengaruh gawai akan berdampak fatal pada masa depan anak, seperti timbulnya masalah motorik dan hancurnya kecerdasan emosional.
Kenyataan hari ini menunjukkan banyak orang tua yang justru membiarkan anak balitanya bermain gawai hingga tidak bisa lepas. Mayoritas orang tua menganggap gawai sebagai solusi praktis agar anak tidak rewel dan tidak mengganggu pekerjaan. Pola pikir tersebut mengabaikan pengaruh buruk yang luar biasa dari gawai terhadap perkembangan anak.
Pendampingan dan Pembatasan di Usia Sekolah
Langkah ketiga, saat anak menginjak usia sekolah dasar dan terdapat tuntutan untuk menggunakan gawai, orang tua wajib memberikan pembekalan serta pendampingan. Anak tidak boleh dibiarkan tanpa pengawasan dengan alasan untuk kepentingan belajar. Kenyataan menunjukkan bahwa fungsi gawai lebih kental dengan nuansa hiburan (entertainment) daripada edukasi.
Sering kali anak menggunakan gawai untuk keperluan belajar hanya dalam hitungan beberapa menit, sedangkan sisa waktunya dihabiskan untuk bermain game, menonton YouTube, dan aktivitas serupa. Oleh sebab itu, pendampingan, pengarahan, dan pembatasan durasi mutlak diperlukan agar pengaruh buruk gawai tidak merusak kinerja otak anak.
Adanya situasi mendesak seperti sistem belajar daring pada masa pandemi memaksa gawai harus berada di tangan anak. Namun, kondisi tersebut harus disikapi dengan memberikan kesan kepada anak bahwa gawai adalah benda dengan akses yang terbatas. Anak harus disadarkan bahwa penggunaan gawai memiliki batasan waktu yang jelas agar mereka tidak merasa bebas menggunakannya tanpa kendali.
Merumuskan Aturan Bersama dan Menghapus Hak Privasi Gawai
Langkah keempat adalah membuat aturan yang disepakati bersama di dalam keluarga terkait penggunaan gawai, yang meliputi ketepatan waktu, tujuan penggunaan, serta cara mengoperasikannya. Salah satu metode efektif yang dapat diterapkan adalah menyediakan waktu berkualitas (quality time) di rumah, di mana seluruh anggota keluarga bersepakat untuk tidak memegang gawai pada jam-jam tertentu.
Langkah pendukung yang paling penting dalam aturan ini adalah tidak menjadikan gawai sebagai barang privasi di dalam rumah. Gawai milik siapa pun, baik milik ayah, ibu, maupun anak, tidak boleh dijadikan sebagai barang rahasia yang bersifat privasi. Kebijakan ini akan mempermudah orang tua dalam melakukan kontrol dan pengawasan terhadap aktivitas digital anak.
Hambatan penegakan aturan ini sering kali bersumber dari orang tua sendiri yang memberikan contoh buruk dengan menjadikan gawai mereka sebagai barang privasi, bahkan menunjukkan kemarahan apabila pasangan atau anaknya menyentuh perangkat tersebut. Sikap keterbukaan orang tua akan melahirkan respons yang sama pada diri anak. Ketika orang tua bersedia membuka gawai mereka secara transparan, anak terutama yang beranjak remaja tidak akan menolak atau marah saat orang tua memeriksa gawai mereka. Konflik internal dalam rumah tangga pun dapat diminimalkan, sebab tidak jarang seorang istri merasa gusar ketika suami membuka gawainya, begitu pula sebaliknya.
Menjadikan gawai sebagai barang privasi yang sarat rahasia sangat berpotensi membawa dampak buruk. Sifat dasar dari sebuah dosa adalah ketidaknyamanan jika aktivitas tersebut diketahui oleh orang lain. Gawai berpotensi besar menjadi ladang dosa apabila aksesnya selalu dirahasiakan, karena kemaksiatan kerap kali tumbuh subur dalam kerahasiaan.
Penghapusan hak privasi gawai di dalam rumah tangga akan menutup celah kemaksiatan tersebut. Di sisi lain, langkah ini mempermudah orang tua untuk mengontrol segala aktivitas anak di dunia maya, termasuk memantau situs yang mereka selancar serta tayangan yang mereka tonton. Namun, orang tua harus menghadirkan rasa keadilan. Gawai milik ayah dan ibu juga tidak boleh menjadi barang privasi bagi anak. Anak diizinkan untuk mengetahui apa yang ditonton oleh orang tua mereka, meski batasannya tetap disesuaikan, seperti tidak membuka aplikasi perbankan (m-banking).
Jika orang tua memproteksi gawai mereka secara ketat namun menuntut anak untuk selalu terbuka, anak akan merasa diperlakukan tidak adil. Ketiadaan rasa adil ini justru memicu anak untuk bersikap sembunyi-sembunyi dalam bermain gawai.
Urgensi Aktivitas Fisik untuk Menghindari Gaya Hidup Sedenter
Langkah selanjutnya adalah membiasakan anak sejak dini untuk melakukan kegiatan fisik guna melatih kemampuan sensorimotor mereka. Orang tua tidak boleh membiarkan anak terjebak dalam gaya hidup malas bergerak atau mager. Fenomena anak jaman sekarang menunjukkan keengganan mereka untuk beraktivitas di luar ruangan. Saat hujan turun, mereka lebih memilih masuk kamar, menarik selimut, menyalakan AC, dan bermain gawai. Kondisi ini berbeda dengan generasi terdahulu yang selalu mencari kesempatan untuk bermain hujan-hujanan, bermain layangan, kejar-kejaran, bermain petak umpet, permainan patok lele, dan aktivitas fisik lainnya.
Anak-anak saat ini lebih asyik bermain game melalui layar gawai. Mereka bermain sepak bola bukan lagi di lapangan, melainkan di atas layar monitor. Akibatnya, kemampuan motorik anak tidak terlatih dan memicu terjadinya masalah kesehatan yang serius akibat kurang bergerak.
Gaya hidup malas bergerak yang dikombinasikan dengan pola makan tidak sehat, seperti konsumsi makanan siap saji, minuman bersoda, dan minuman kekinian dengan kadar gula tinggi secara terus-menerus, merupakan kombinasi yang sangat berbahaya. Jika pola ini dibiarkan sejak masa kanak-kanak, berbagai penyakit kronis akan mengintai tanpa perlu menunggu usia tua.
Kini, gangguan kesehatan seperti serangan jantung, gagal ginjal, gula darah tinggi, asam urat, hingga kolesterol sudah menjadi tren penyakit yang dialami oleh generasi muda pada usia 20 hingga 30 tahun. Bahkan, masalah pengeroposan tulang atau osteoporosis sudah dikeluhkan oleh individu yang belum menginjak usia 40 tahun akibat kurangnya olahraga dan paparan aktivitas fisik yang tidak terlatih sejak dini.
Orang tua harus membiasakan anak melakukan kegiatan fisik sejak dini, seperti mengajak berolahraga bersama atau melakukan pekerjaan rumah tangga yang melibatkan gerakan fisik.
Download mp3 Kajian
Podcast: Play in new window | Download
Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56365-melatih-kedewasaan-anak-dalam-menghadapi-teknologi/